Hiasan naga putih di atas jembatan sungai Amandit (Hamandit) Kandangan
Powered By Blogger

Selasa, 03 November 2026

KAMAL ANSYARI KANDANGAN

Kamal Ansyari adalah seorang blogger, penulis, dan pemerhati sejarah lokal asal Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan.

Ia dikenal secara luas di ruang digital karena mendedikasikan tulisan-tulisannya untuk mendokumentasikan, merawat, dan memublikasikan sejarah, cerita rakyat, serta asal-usul budaya di tanah kelahirannya melalui platform blog pribadinya, Kandangan dan Kamal Ansyari. 
Berikut adalah poin penting mengenai kontribusi dan tulisan Kamal Ansyari:
  • Pencetus Frasa Kebanggaan Lokal: Ia adalah penulis esai populer berslogan "Kandangan Kota Petarung: Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah". Tulisan ini menguraikan alasan historis mengapa karakter masyarakat Kandangan dikenal tangguh dan gigih menghadapi penindasan sejak era kolonial Belanda hingga revolusi fisik. 
  • Pendokumentasi Tokoh Pejuang Daerah: Melalui catatan digitalnya, ia mengulas kisah pahlawan dan tokoh lokal dari bumi Antaluddin yang jarang masuk ke dalam buku sejarah nasional, seperti kisah kepahlawanan Tumenggung Antaluddin dalam Perang Banjar dan perjuangan Panglima Bukhari dalam peristiwa Amuk Hantarukung. 
  • Pelestari Legenda dan Mitologi Amandit: Selain sejarah riil, Kamal aktif menulis cerita rakyat dan legenda yang hidup di masyarakat hulu sungai, seperti legenda Datu Naga Ningkurungan dari Loksinaga serta kisah kesaktian Datu Hamawang (Tumenggung Raksa Yuda).
Di dunia maya, ia juga dikenal dengan nama profil sosial media Kamal Rider atau Abahnya Naira dan Haikal, yang menetap di wilayah Antaluddin, Kandangan Utara. Lewat ketelatenannya menulis, arsip sejarah lisan dan lokal wilayah Hulu Sungai Selatan dapat dengan mudah diakses dan dipelajari oleh generasi muda saat ini. 

KANDANGAN KOTA PETARUNG

Kandangan dikenal sebagai "kota petarung" karena sejarah panjang keberanian warganya, tradisi kepemimpinan hulu balang dan jawara yang lekat dengan senjata tajam tradisional, serta peran pentingnya sebagai pusat perlawanan pada masa kolonial hingga revolusi fisik (seperti peristiwa heroik Amuk Hantarukung dan basis Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan).

Asal-Usul Julukan dan Karakter Wilayah
  • Tradisi Hulu Balang dan Jawara: Masyarakat Kandangan memiliki akar sejarah di mana para hulu balang dan jawara kerap membawa senjata tajam (seperti parang bungkul) untuk menjaga keamanan dan kehormatan wilayah.
  • Perlawanan terhadap Kolonial: Sejarah mencatat berbagai perlawanan keras rakyat setempat terhadap penindasan kolonial Hindia Belanda, salah satunya insiden berdarah Amuk Hantarukung di Distrik Amandit (Kecamatan Simpur) pada September 1899.
  • Pusat Revolusi Fisik: Pada masa kemerdekaan, Kandangan menjadi basis pertahanan penting bagi Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan, serta melewati masa-masa gejolak sosial pasca-kemerdekaan (zaman gerombolan).

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 Kota Kandangan—ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan—sering dijuluki sebagai "Tanah Para Jawara", Bumi Para Pejuang, atau diasosiasikan sebagai wilayah dengan tradisi keberanian, seni bela diri, serta sejarah perlawanan yang kuat.

Beberapa hal utama di balik identitas dan sejarah tersebut meliputi:

• Akar Sejarah dan Perlawanan: Kandangan memiliki catatan sejarah penting sebagai pusat perlawanan rakyat terhadap penjajahan kolonial (seperti peristiwa heroik Amuk Hantarukung) dan menjadi basis pergerakan Divisi IV ALRI Kalimantan.

• Tradisi Hulu Balang dan Wasi (Senjata Tajam): Masyarakat lokal zaman dulu memiliki tradisi kepemimpinan dan pengawalan oleh para hulu balang serta jawara yang lekat dengan kebiasaan membawa senjata tajam tradisional khas seperti Parang Bungkul (yang juga diabadikan dalam simbol daerah Hulu Sungai Selatan). Senjata ini dahulu dipandang sebagai simbol kehormatan, harga diri, dan pertahanan diri.

• Pusat Beladiri Kuntau: Kandangan dikenal sebagai salah satu tempat berkembangnya berbagai aliran seni bela diri tradisional Banjar, salah satunya perguruan Kuntau seperti "Jasa Datu" yang kemudian melahirkan banyak cabang perguruan di Kalimantan Selatan.

• Perubahan Zaman: Seiring perkembangan hukum, aturan membawa senjata tajam di tempat umum, serta modernisasi, tradisi membawa wasi di keseharian sudah sangat berkurang. Generasi muda di Kandangan kini lebih mengarahkan semangat juang tersebut ke dalam prestasi, pendidikan, dan pembangunan daerah.

Kandangan Kota Petarung

 Kota Kandangan—ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan—sering dijuluki sebagai "Tanah Para Jawara", Bumi Para Pejuang, atau diasosiasikan sebagai wilayah dengan tradisi keberanian, seni bela diri, serta sejarah perlawanan yang kuat.

Beberapa hal utama di balik identitas dan sejarah tersebut meliputi:

• Akar Sejarah dan Perlawanan: Kandangan memiliki catatan sejarah penting sebagai pusat perlawanan rakyat terhadap penjajahan kolonial (seperti peristiwa heroik Amuk Hantarukung) dan menjadi basis pergerakan Divisi IV ALRI Kalimantan.

• Tradisi Hulu Balang dan Wasi (Senjata Tajam): Masyarakat lokal zaman dulu memiliki tradisi kepemimpinan dan pengawalan oleh para hulu balang serta jawara yang lekat dengan kebiasaan membawa senjata tajam tradisional khas seperti Parang Bungkul (yang juga diabadikan dalam simbol daerah Hulu Sungai Selatan). Senjata ini dahulu dipandang sebagai simbol kehormatan, harga diri, dan pertahanan diri.

• Pusat Beladiri Kuntau: Kandangan dikenal sebagai salah satu tempat berkembangnya berbagai aliran seni bela diri tradisional Banjar, salah satunya perguruan Kuntau seperti "Jasa Datu" yang kemudian melahirkan banyak cabang perguruan di Kalimantan Selatan.

• Perubahan Zaman: Seiring perkembangan hukum, aturan membawa senjata tajam di tempat umum, serta modernisasi, tradisi membawa wasi di keseharian sudah sangat berkurang. Generasi muda di Kandangan kini lebih mengarahkan semangat juang tersebut ke dalam prestasi, pendidikan, dan pembangunan daerah.

Minggu, 01 November 2026

Kandangan Kota Petarung

 

KANDANGAN KOTA PETARUNG

Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah

Oleh: Kamal Ansyari

Kandangan merupakan ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Kota ini tidak hanya dikenal dengan kekayaan kuliner seperti Ketupat Kandangan dan Dodol Kandangan, tetapi juga memiliki sejarah perjuangan, tradisi, serta karakter masyarakat yang kuat.

Ungkapan “Kandangan Kota Petarung” merupakan gambaran semangat dan kebanggaan terhadap jati diri masyarakat Kandangan. Petarung dalam konteks ini bukan sekadar orang yang berani mengangkat senjata atau bertanding secara fisik, melainkan pribadi yang memiliki keberanian, keteguhan hati, harga diri, dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan.

1. Kandangan dan Sejarah Perjuangan

Hulu Sungai Selatan memiliki catatan sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan dalam mempertahankan tanah air dan melawan penjajahan. Semangat perjuangan tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakatnya.

Kisah perjuangan para pendahulu mengajarkan bahwa kemerdekaan, kehormatan, dan martabat bangsa harus diperjuangkan dengan keberanian dan pengorbanan.

Karena itu, semangat petarung hendaknya dimaknai sebagai keberanian membela kebenaran, menjaga kehormatan, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

2. Parang Bungkul sebagai Identitas Budaya

Salah satu benda budaya yang memiliki hubungan dengan identitas Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah Parang Bungkul.

Parang Bungkul dikenal sebagai senjata tradisional khas daerah Kandangan dan menjadi salah satu unsur dalam lambang Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Keberadaan Parang Bungkul mengingatkan kita pada warisan budaya, keberanian, dan semangat masyarakat dalam menjaga jati diri daerah.

Parang bukan untuk mengajarkan kekerasan, tetapi menjadi pengingat sejarah dan tanggung jawab generasi penerus untuk melestarikan warisan leluhur.

3. Jiwa Petarung Masyarakat Kandangan

Jiwa petarung masyarakat Kandangan dapat diwujudkan melalui beberapa sikap:

  • Berani membela kebenaran dan keadilan.
  • Tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan.
  • Menjaga kehormatan dan harga diri.
  • Memiliki semangat gotong royong.
  • Menghormati orang tua dan para pendahulu.
  • Menjaga adat istiadat dan budaya daerah.
  • Berani menghadapi tantangan zaman dengan ilmu pengetahuan.

Inilah makna petarung yang sesungguhnya: kuat dalam prinsip, santun dalam pergaulan, dan bertanggung jawab dalam kehidupan.

4. Kekayaan Budaya Kandangan

Kandangan mempunyai kekayaan budaya yang patut dibanggakan. Di antaranya:

  • Parang Bungkul sebagai warisan budaya daerah.
  • Ketupat Kandangan sebagai kuliner khas.
  • Dodol Kandangan sebagai makanan tradisional.
  • Bahasa Banjar sebagai identitas komunikasi masyarakat.
  • Tradisi keagamaan dan gotong royong.
  • Kekayaan budaya Dayak Meratus di kawasan Loksado, termasuk tradisi Aruh Ganal.

Kekayaan tersebut merupakan warisan yang harus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda.

5. Generasi Muda sebagai Petarung Masa Kini

Pada masa sekarang, perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata. Tantangan generasi muda jauh lebih luas, mulai dari pendidikan, ekonomi, teknologi, pergaulan, hingga menjaga moral dan akhlak.

Generasi muda Kandangan harus menjadi petarung dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kewirausahaan, olahraga, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Jangan sampai generasi penerus hanya bangga dengan sejarah masa lalu, tetapi tidak mampu menciptakan prestasi pada masa sekarang.

Petarung sejati adalah mereka yang mampu mengalahkan kemalasan, mengendalikan hawa nafsu, menjauhi narkoba, menjaga persatuan, serta memberikan manfaat bagi orang lain.

6. Penutup: Menjaga Nama Baik Kandangan

Kandangan bukan hanya sebuah kota, tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Hulu Sungai Selatan.

Semangat “Kandangan Kota Petarung” hendaknya menjadi motivasi untuk membangun masyarakat yang berani, berkarakter, berbudaya, religius, dan berprestasi.

Mari kita jaga warisan leluhur, hormati sejarah perjuangan, lestarikan budaya, dan bangun masa depan dengan ilmu pengetahuan serta akhlak mulia.

KANDANGAN KOTA PETARUNG!

Bumi Para Pejuang, Berjiwa Kesatria, Pantang Menyerah!

Berani karena benar, kuat karena bersatu, dan bermartabat karena berakhlak.

KANDANGAN KOTA PETARUNG

 KANDANGAN – KOTA PETARUNG

Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, memiliki sejarah panjang perjuangan dan keberanian masyarakatnya.

Julukan Kota Petarung dapat menjadi ungkapan kebanggaan terhadap:

Semangat Pejuang: mengenang perjuangan rakyat Hulu Sungai Selatan.

Keberanian: melambangkan keteguhan dan pantang menyerah.

Parang Bungkul: salah satu identitas budaya dan lambang daerah.

Jiwa Kesatria: menjunjung kehormatan, keberanian, dan tanggung jawab.

Harga Diri: menjaga adat, budaya, dan martabat daerah.

Rabu, 27 Juni 2012

PANJAT ENAU : OLAH RAGA TRADISIONAL DARI KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN


Festival Budaya Banjar kembali digelar di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Berbagai olahraga tradisional ditampilkan, salah satunya tradisi masyarakat Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan yakni menaiki pohon enau. Olahraga yang membutuhkan kemahiran dan keberanian tersebut ternyata sangat menghibur masyarakat.

Festival Budaya Banjar yang digelar di halaman kantor Gubernur Kalimantan Selatan kali ini terasa cukup meriah dibanding sebelumnya. Pasalnya dalam festival tersebut, selain ditampilkan berbagai lomba unik dan menarik juga ditampilkan tradisi keseharian masyarakat pedalaman yang dikemas menjadi cabang olahraga tradisional yakni menaiki enau.

Olahraga tradisional yang berasal dari Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini dimainkan oleh dua tim, yang satu timnya terdiri dari 3 orang. Para peserta berlari dan langsung menaiki enau yang dibuat dari tiang bambu, sambil membawa penampung air bambu untuk diletakkan diatas enau.

Selanjutnya para peserta kembali memanjat untuk memasukan air kedalam tempat penampungan tadi. Para peserta terlihat sangat lincah dalam memanjat maupun turun dari batang bambu. Setelah air terisi penuh diatas enau, para peserta kembali mengambil air untuk dikumpulkan. Nanang, salah satu peserta panjat enau berharap agar kebiasaan masyarakat pendalaman pencari air enau yang kini telah dibentuk menjadi olahraga tradisional akan terus dilestarikan.