Kota Kandangan—ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan—sering dijuluki sebagai "Tanah Para Jawara", Bumi Para Pejuang, atau diasosiasikan sebagai wilayah dengan tradisi keberanian, seni bela diri, serta sejarah perlawanan yang kuat.
Beberapa hal utama di balik identitas dan sejarah tersebut meliputi:
• Akar Sejarah dan Perlawanan: Kandangan memiliki catatan sejarah penting sebagai pusat perlawanan rakyat terhadap penjajahan kolonial (seperti peristiwa heroik Amuk Hantarukung) dan menjadi basis pergerakan Divisi IV ALRI Kalimantan.
• Tradisi Hulu Balang dan Wasi (Senjata Tajam): Masyarakat lokal zaman dulu memiliki tradisi kepemimpinan dan pengawalan oleh para hulu balang serta jawara yang lekat dengan kebiasaan membawa senjata tajam tradisional khas seperti Parang Bungkul (yang juga diabadikan dalam simbol daerah Hulu Sungai Selatan). Senjata ini dahulu dipandang sebagai simbol kehormatan, harga diri, dan pertahanan diri.
• Pusat Beladiri Kuntau: Kandangan dikenal sebagai salah satu tempat berkembangnya berbagai aliran seni bela diri tradisional Banjar, salah satunya perguruan Kuntau seperti "Jasa Datu" yang kemudian melahirkan banyak cabang perguruan di Kalimantan Selatan.
• Perubahan Zaman: Seiring perkembangan hukum, aturan membawa senjata tajam di tempat umum, serta modernisasi, tradisi membawa wasi di keseharian sudah sangat berkurang. Generasi muda di Kandangan kini lebih mengarahkan semangat juang tersebut ke dalam prestasi, pendidikan, dan pembangunan daerah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar